Jumat, 26 November 2010

Pendidikan untuk profesi kependidikan

Assalamu’alaikum Wr.Wb
         Selasa, 9 november 2010, dengan mengucapkan bismillah kuliah profesi kependidikan kembali dimulai. Pada pertemuan kali ini, saya dan teman – teman akan mempelajari tentang pendidikan untuk profesi kependidikan. Manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. Pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran dan/atau cara lain yang dikenal dan diakui oleh masyarakat. Untuk menghasilkan kualitas pendidikan yang baik, pastinya diperlukan SDM yang memiliki kompetensi yang baik pula. Ada beberapa bentuk pengembangan profesi tenaga pendidik (guru) sebagai lebih lanjut dari kinerjanya ada dua program. Pertama, program pre-service education (Pendidikan guru Pra-jabatan). Program pre-service education adalah program pendidikan yang dilakukan pada pendidikan sekolah sebelum peserta didik mendapat tugas tertentu dalam suatu jabatan. Lembaga penyelenggaraan program pre-service education adalah pendidikan tinggi. Kedua, program in-service education. Program in-service education adalah program pendidikan yang mengacu pada kemampuan akademik maupun profesional sesudah peserta didik mendapat tugas tertentu dalam suatu jabatan. Pada bidang ilmu pendidikan program in-service education diselenggarakan oleh lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) baik non gelar maupun yang bergelar.
           Pemerintah sebenarnya sudah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Salah satunya adalah pendidikan profesi guru. Pendidikan Profesi Guru (PPG) merupakan program pendidikan setelah S1 yang mencakup keahlian khusus yang terkait dengan kompetensi guru. Pendidikan profesi guru masih merupakan konsep baru dalam sistem pendidikan Indonesia. PPG dapat ditempuh bagi mereka yang telah menyelesaikan pendidikan S1. Tentunya PPG terbuka bagi sarjana apapun yang bidang ilmunya relevan, baik itu sarjana pendidikan maupun sarjana dari ilmu murni. Adanya PPG juga memberikan pilihan bagi sarjana pendidikan untuk tidak mejadi guru. Selain itu, di dalam PPG nantinya juga akan ada PPL yang menjadi bekal bagi guru untuk terjun dalam dunia pendidikan. PPG merupakan syarat utama seorang sarjana S1 untuk dapat menjadi guru. Bagi mereka yang lulus dari PPG akan mendapatkan tunjangan guru dan menjadi guru profesional sebagaimana guru-guru yang telah lulus sertifikasi. Dalam pelaksanaannya program ini masih belum berjalan maksimal. Misalnya saja, sertifikasi lewat program Pendidikan Profesi Guru (PPG) yang dimulai tahun 2009 masih belum jelas konsepnya. Belum lagi, program ini menjadi titik masuk bagi lulusan nonpendidikan untuk mendapatkan sertifikat sebagai guru profesional. Martikulasi yang belum matang membuat PPG tidak luput dari protes. Profesi guru seakan-akan menjadi pilihan kedua bagi lulusan nonpendidikan setelah kalah bersaing dalam mendapatkan pekerjaan pada disiplin ilmunya.PPG ini sendiri mengancam nasib para calon guru. Karena PPG ini dilaksanakan dengan seleksi yang ketat dan formasi yang sangat terbatas. Setiap tahunnya setiap Universitas bisa mengeluarkan sarjana ratusan orang. Belum lagi untuk Universitas lainnya yang juga mencetak calon guru. Selain itu dari informasi yang di dapat untuk penerimaan PNS untuk selanjutnya bila PPG sudah dilaksanakan tidak ada lagi formasi untuk guru karena sudah dilaksanakan lewat PPG.Kalau sudah begitu bagaimana nasib calon guru yg tidak lulus-lulus PPG. Kalau pemerintah tidak bijak dalam melaksanakan hal ini maka makin bertebaranlah sarjana pengangguran.
        Pada dasarnya program – program pemerintah yang digulirkan khususnya di bidang pendidikan itu mempunyai tujuan yang sangat baik. Tetapi, dalam pelaksanaan masih mengalami banyak kendala. Melihat persoalan ini, pemerintah sebaiknya harus terjun langsung ke lapangan bagaimana program ini dilaksanakan dan juga lakukan evaluasi. Jangan sampai ada pihak – pihak yang dirugikan. Pendidikan merupakan bidang yang sangat vital dalam suatu negara. Apabila pendidikan suatu bangsa itu buruk, maka kekacauan, kehancuran suatu negara tinggal menunggu waktu saja. Mari bersama satukan tekad, tetapkan tujuan dan tataplah masa depan!!!!!!!!!!!!!
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.
-Syukron-

Jumat, 19 November 2010

KELOMPOK PERENC. PEMBLJRN PKN

Kel 1
subhi,musafah,rosita,fitria
kel 2
tiara,handar,lusy,cndra
kel 3
m.rifky,yudo,nur dian, nenden
kel 4
herdi,heni,ion,reva
kel 5
amir,gita,archila,diba
kel 6
subali,aziz,ririn,maya
kel 7
silvia,stepi,ledy,ahmad 06
kel 8
niko,shobirin,rosita,yulianingsih
kel 9
fadlianto,maeky,winda
kel 10
ade rahmat,maryu,raisa
Notes : apbl ad yg blum dpt klmpk tulis d komentar

Kinerja Pendidik dalam Pembelajaran

Add caption

Assalamu’alaikum Wr.Wb

             Selasa,9 november 2010, dengan mengucapkan bismillah kuliah profesi kependidikan kembali dimulai. Pada pertemuan kali ini saya dan teman – teman membahas tentang kinerja pendidik dalam pembelajaran. Kinerja merupakan  prestasi yang dicapai oleh seseorang dalam melaksanakan tugasnya atau pekerjaannya selama periode tertentu sesuai standar dan kriteria yang telah ditetapkan untuk pekerjaan tersebut. sedangkan pendidik dalam pasal 1 ayat 6 UUSPN,adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan. Dan pembelajarn dalam Pasal ayat 20 UUSPN,adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Jika kita kita mempelajari kinerja pendidik dalam pembelajaran, maka pertanyaan yang muncul ialah bagaimana standar kinerja pendidik dan model – model apa saja yang dapat Meningkatkan Kinerja Pendidik dalam Pembelajaran. Untuk itu, kita akan kupas satu per satu.

Pertama, Untuk mewujudkan kinerja Pendidik yang maksimal dan bagus maka harus di penuhi persyaratan terlebih dahulu sebagai seorang pendidik seperti dalam pasal 42 dan 43 UUSPN. agar menjadi seorang pendidik yang professional dan memiliki ilmu pengetahuan, serta mengajarkan ilmunya kepada orang lain, sehingga orang tersebut mempunyai peningkatan dalam kualitas sumber daya manusianya. Maka kinerja guru ber­kaitan dengan tugas perencanaan, pe­ngelolalan pembelajaran dan penilaian hasil belajar siswa. Sebagai perencana, maka guru harus mampu mendesain pembelajaran yang sesuai dengan kondisi di lapangan, sebagai pengelola maka guru harus mampu menciptakan iklim pem­belajaran yang kondusif sehingga siswa dapat belajar dengan baik, dan sebagai evaluator maka guru harus mampu me­laksanakan penilaian proses dan hasil belajar siswa. Terakhir pendidik harus memenuhi Standar Kompetensi Guru sehingga dapat bisa dikatakan apakah kinerja pendidik sudah baik atau belum dalam pembelajaran.

Seperti yang kita ketahui bersama untuk mendapatkan standar – standar tersebut tidaklah mudah.  Perlu adanya model – model yang dapat meningkatkan kinerja pendidik dalam pembelajaran. Model – model tersebut, antara lain ; a. peningkatan melalui pendidikan dan pelatihan (off the job training). B. pelatihan dalam pelaksanaan tugas atau on the job training.c. seperti yang dilakukan Jepang yang populer dengan istilah lesson studi . d. melakukan perbaikan melalui kegiatan penilitian tindakan kelas (PTK). Model – model tersebut, sebenarnya hanyalah sebagaian dalam upaya meningkatkan kinerja pendidik dalam pembelajran, semuanya itu tergantung kepada pendidik itu sendiri. Apakah ia ingin menjadi profesional atau biasa – biasa aja. Sebagai rasa syukur, kita akhiri kuliah ini dengan mengucapkan Alhamdulillah.
–syukron-
Wassalamu’alaikum Wr.Wb…………



Senin, 11 Oktober 2010

Profesi, Profesional, dan Profesionalisme

Seseorang yang Profesional
    Istilah profesi, profesional dan profesionalisme sudah tidak asing lagi di telinga kita. Ketika kita berbicara tentang profesi maka orang akan mengkaitkannya dengan professional dan juga profesionalisme. Profesi sendiri memiliki arti pekerjaan yang dilakukan sebagai kegiatan pokok untuk menghasilkan naskah hidup yang mengandalkan suatu keahlian. Lalu apakah etika profesi itu? jika kita menilik kata etik atau etika itu berasal dari kata ethos (bahasa Yunani) yang berarti karakter watak kesusilaan atau adat. Sebagai suatu subjek etika akan berkaitan dengan konsep yang yang dimiliki oleh individu ataupun kelompok untuk menilai apakah tindakan – tindakan yang telah dikerjakan itu salah atau benar, buruk atau baik.Menurut UU No. 8 (Pokok-Pokok Kepegawaian), kode etik profesi adalah pedoman sikap, tingkah laku dan perbuatan dalam melaksanakan tugas dan dalam kehidupan sehari-hari.Prinsip – prinsip etika profesi tersebut, yaitu pertama tanggung jawab. Tanggung jawab yang dimaksud adalah terhadap pelaksanaan pekerjaan itu dan terhadap hasilnya. Kedua, keadilan (justice). Prinsip ini menuntut kita untuk memberikan kepada siapa saja apa yang menjadi haknya. Ketiga, otonomi. Menuntut agar setiap kaum profesioanal memiliki dan diberi kebebasan dalam menjalankan profesinya. Beberapa prinsip diatas memiliki fungsi yang sangat penting yaitu sebagai landasan utama dalam menjalankan suatu profesi.  
             Profesional adalah orang yang mempunyai profesi. Seseorang dikatakan professional apabila orang tersebut tahu akan keahlian dan keterampilannya, dia meluangkan seluruh waktunya untuk pekerjaan atau kegiatannya itu, dan bangga akan pekerjaannya.
             Beralih ke profesionalisme. Profesionalisme merupakan komitmen para anggota suatu profesi untuk meningkatkan kemampuannya secara terus –menerus. Seseorang yang memiliki jiwa profesionalisme senantiasa mendorong dirinya untuk mewujudkan kerja – kerja yang professional. Dari point - point diatas dapat kita ketahui bahwa dalam setiap profesi kita butuh memiliki sikap profesionalisme, apapun itu bidangnya yang sedang anda lakukan.


     "Only The Man Who is in The Thruth is a Free Man"

Senin, 04 Oktober 2010

Pendidikan untuk anak Cerdas + Berbakat Istimewa


Anak – anak cerdas berbakat istimewa (CIBI), atau dalam bahasa Inggris adalah gifted. Kata gift sendiri bisa bermakna pemberian,yang berarti sebuah kemampuan bawaan yang diberikan oleh Allah SWT berupa potensi yang memerlukan pengembangan dan pelatihan secara serius dan sistematis. Anak-anak gifted biasanya dipengaruhi oleh  Genetik(intelegensi atau IQ) dan juga Lingkungan yang ada di sekitarnya. Ciri – ciri anak gifted itu, yang pertama, yaitu kemampuan mereka diatas rata-rata, Kedua, mereka memiliki kreatifitas yang luar biasa, dan mereka memiliki komitmen terhadap apa yang ia kerjakan.
Indonesia yang beraneka ragam budayanya ternyata memiliki potensi satu juta lebih siswa dengan potensi gifted ini. Tetapi,  kenyataan yang terjadi baru 9.951 siswa yang terakomodir di sekolah-sekolah penyelenggara CIBI. Sementara jumlah lembaga pendidikan yang sudah membuka program ini sebanyak 311 sekolah dari 126 ribu sekolah.
Menurut Cohn, kemampuan atau talenta pada anak-anak gifted (atau juga anak-anak lainnya) dapat dibagi menjadi 4 Domain, yaitu Intelectual Domain berupa talenta qualitatif, spatial, verbal, dan talent lainnya,  Artistic Domain, berupa seni, drama, dan lainnya, Social Domain, yaitu emphaty/altruistic talent, leadership, dan lainnya, Other Human Ability Domains, atau spesific talent dimensions.
Anak pintar dan anak cerdas berbakat istimewa memiliki beberapa perbedaan. Anak pintar (bright/high achiver), itu umumnya mereka menjawab pertanyaan dengan benar, berminat dengan sesuatu, menunjukan perhatian, mendengarkan penuh dengan minat, memahami gagasan orang lain dengan baik, Suka sekolah, terakhir mereka suka waspada. Sedangkan anak cerdas Berbakat istimewa, elalu mempersoalkan pertanyaan/permasalahan, penasaran dengan sesuatu, terlihat secara emotional,mental dan fisik, Hobi kritik dan bawel, menyimak untuk siap berdebat, suka belajar, membentuk gagasan sendiri, kemampuan membaca sangat tinggi.
            Seringkali kita memandang bahwa anak gifted itu dianggap anak nakal karena susah di atur dan lain-lain. Guru masih banyak yang menganggap bahwa anak CIBI harus rajin, tekun, taat dan patuh. Oleh karena itu ketika guru melihat ada anak yang memiliki ciri berlawanan dengan anggapan tersebut maka guru menganggap anak tersebut tidak cocok disebut CIBI. Anggapan ini pun akhirnya akan berdampak pada cara guru dalam melakukan pendampingan terhadap anak CIBI. Disisi lain Orang tua juga sering membandingkan anaknya yang termasuk kategori CIBI dengan anak CIBI lainnya. Membanding-bandingkan ciri ini akan melahirkan tuntutan yang berlebihan atau harapan melebihi kemampuan anak CIBI itu sendiri. Orang tua yang memiliki anak bandel atau pemberontak akan menganggap anaknya tidak CIBI hanya karena orang tua tersebut membandingkan dengan anak CIBI lain yang memiliki ciri penurut, taat dan rajin. Padahal dalam kenyataanya IQ hanya menyumbang 20%  dari suatu keberhasilan.
Selain itu, masih banyak sekolah yang belum bisa mewadahi siswa dengan kemampuan istimewa ini. Dengan alasan tidak mau menimbulkan diskriminasi antar siswa apabila siswa gifted ini harus ditempatkan di kelas yang khusus. Padahal siswa berhak mendapatkan apa yang sesuai dengan kebutuhannya. Sebab karakteristik anak gifted ini ialah tidak bisa belajar dengan siswa yang lambat maka jika tetap dijadikan satu kelas yang muncul adalah under receiver. Anak akan sulit menerima materi dari gurunya. Dan yang jelas anak gifted itu berbeda dengan anak high achiver dan pendidikan untuk keduanya tidaklah sama.
                Adapun tipe – tipe yang dimiliki oleh anak gifted :
1. Tipe I (The Succesful)
Di dalam dunia pendidikan, menurut Betts dan Neihart, anak-anak gifted yang terindentifikasi sebanyak 90 persen adalah dari kelompok tipe ini.Mereka adalah anak-anak yang mampu meraih yang sangat baik, dan dapat mengikuti sistem pendidikan konvensional dengan baik. Mereka mendengarkan dan mempelajari dengan baik apa yang diajarkan baik di sekolah maupun di rumah. Dalam berbagai tes atau ujian mereka juga meraih skor yang tinggi, disamping itu mereka dapat terpilih dan mendapatkan tempat dalam program pendidikan anak gifted.
2. Tipe II (The Challenging)
Tipe yang satu ini sering tidak teridentifikasi oleh sekolah atau orang tua karena mereka tidak menunjukkan prestasi yang baik.Mereka biasa melakukan segala sesuatu secara spontan dan seringkali spontanitas itu dianggap kegiatan yang mengacaukan, tidak teratur dan tidak patuh.Anak kelompok ini biasanya memiliki tingkat kreatifitas yang sangat tinggi, namun tidak belajar untuk memanfaatkan kebolehannya.Anak ini lebih banyak frustasi karena sistem pendidikan tidak memberikan keleluasan dan perhatian kepada mereka baik kreatifitasnya maupun talentanya.
3. Tipe III (The Underground)
Kelompok ini adalah kelompok yang menyembunyikan talenta dan kemampuannya. Umumnya terjadi pada kelompok gifted perempuan diusia sekolah lanjutan pertama. Mereka cenderung menyembunyikan kemampuannya untuk bisa diterima oleh teman sebayanya. Pada lelaki biasanya terjadi ketika masa usia SMA karena mereka meresppon perkembangan sosial yang terjadi disekelilingnya. Ciri mereka biasanya diawal tahun pelajaran cenderung mampu memaksimalkan kemampuannnya, namun ketika menjelang akhir mereka mengalami penurunan yang drastis dan bahkan menolak kelebihan yang ada pada dirinya.
4. Tipe IV (The Dropouts)
Kelompok ini sebenarnya memiliki potensi yang tinggi namun tidak mendapatkan dukungan yang baik dari sekolah dan orang tua.Mereka cenderung tidak bisa memunculkan prestasinya dengan harapan dan kemampuannya sendiri.Sistem pendidikan di sekolah menyebabkan kefrustasian dan pada akhirnya membawanya pada penarikan diri dan kondisi depresi.
5. Tipe V (The Double Labeled)
Merupakan kelompok gifted yang memiliki gangguan secara fisik, emosional tatupun gangguan belajar (learning disabilities). Anak kelompok ini memerlukan program khusus untuk modifikasi program yang sesuai dengan kondisinya. Seringkali ia tidak menunjukkan prestasi sebagaimana anak gifted pada umumnya karena mereka lebih sering dilihat dari sisi lemahnya, bukan kekuatannya.
6. Tipe VI (The Outonomous Learner)
Anak gifted yang sangat mandiri dan mempunyai jiwa kepemimpinan yang sangat kuat. Ia dapat mengembangkan diri secara kreatif dan mampu memanfaatkan segala sesuatu yang ditawarkan dalam pendidikan. Apa yang didapatkan dari sekolah dapat ia kembangkan sendiri sebagai sesutau yang baru. Ia tidak tergantung kepada orang lain dan sangat independen. Ia dapat menentukan sendiri apa yang ingin dicapainya, mempunyai sikap diri yang positif. Ia juga mampu mengekspresikan perasaan, tujuan dan cita-citanya dengan baik dan bebas. Ia sangat disayangi oleh lingkungan dan mendapatkan dukungan positif. Biasanya ia terpilih menjadi pemimpin dalam kelompoknya, baik di sekolah maupun di masyarakat.

Persoalan terjadi saat ini, Perhatian pemerintah terhadap anak-anak cerdas berbakat istimewa (CI/BI) masih belum diwadahi secara optimal. Pemerintah dan sekolah pun belum bisa memberikan aturan yang tegas  serta ruang khusus bagi mereka. Oleh Karena itu perlu adanya upaya membangun kepedulian masyarakat terhadap anak-anak CI/BI ini. Berilah kesempatan kepada mereka dan juga fasilitas yang sesuai dengan kebutuhannya.Jika tidak ada perhatian lebih kepada anak-anak CIBI ini, bukan tidak mungkin Indonesia  akan banyak kehilangan banyak generasi-generasi unggul.

Jumat, 24 September 2010

Paradigma Baru Manajemen Pendidikan

            Belakangan ini banyak para pakar pendidikan yang tengah membicarakan tentang bagaimana sebenarnya cara yangt tepat dalam mengelola dan mengkonsep pendidikan yang dapat menghasilkan generasi-generasi yang mampu bersaing. Seperti kita ketahui, sekarang dunia pendidikan Indonesia terkesan hanya jalan di tempat. Bangsa Imdomesia seharusnya malu dengan negara-negara lain yang sudah sangat baik dalam mengkonsep suatu pendidikan. Saya ambil contoh, tetangga kita Malaysia yang sangat baik dalam mengelola dan mengkonsep suatu pendidikan sehingga menghasilkan generasi-generasi yang membanggakan negaranya. Lalu apa yang harus kita lakukan? Jawabannya adalah buatlah paradigma (cara pandang yang berbeda) baru dalam mengelola, mengkonsep, dan mengemas sebuah pendidikan yang mampu menghasilkan generasi-generasi yang bersaing.Yang harus kita pikirkan adalah trend masa kini dan masa depan menjadi acuan untuk bergerak selangkah lebih maju.Selain itu, ciptakan suatu persaingan yang kompetitif dengan hasrat atau keinginan yang kuat, aturan yang ditegakkan, dan juga etika sebagai landasan dari persaingan yang kompetitif.
            Dalam suatu penyelenggaraan pendidikan dibutuhkan sikap yang transparan, tidak ditutup-tutupi semuanya haruslah jelas. Sebab, jika tidak, bukan tidak mungkin KKN akan merajalela dan hancurlah pendidikan tersebut. Selanjutnya adalah diperlukan orang-orang yang memiliki spesialisasi, sebab memanage suatu pendidikan itu tidaklah mudah diperlukan orang-orang yang qualified di bidangnya.Yang ketiga, yaitu profesional artinya dia fokus terhadap pekerjaan yang ia lakukan dan tidak membuang-buang waktu.hal ini merupakan sesuatu yang sangat penting. keempat adalah dinamis, maksudnya dia mau mengambil resiko, tidak pasif, dan selalu membuat experiment yang nantinya menjadi sebuah pengalaman (experience) yang berharga.Terakhir, adaptif artinya mampu mengkondisikan dirinya pada saat berpijak sehingga dia tidak ragu-ragu dalam mengambil keputusan.
            Tuntunan terhadap "kompetensi SDM" yaitu pengetahuan atau wawasan global maksudnya SDM yang dihasilkan memiliki wawasan yang luas dan konseptual yang integratif dan aplikatif serta berorientasi pada solusi, inovasi dan kreatif. Dan yang terpenting adalah menjunjung tinggi nilai-nilai universal (lintas budaya). Selain mempunyai wawasan yang global, diperlukan pula keteranpilan global, aertinya SDM mampu bersosialisasi dengan berbagai komunitas multibudaya, memanfaatkan teknologi informasi secara maksimal, serta mampu mengembangkan intelektual ditambah emosional dan dilengkapi dengan adversity skill. Sikap atau perilaku juga termasuk didalamnya, yaitu memiliki sikap yang dinamis dan fleksibel, inisiatif dan proaktif, inovatif dan kreatif, mandiri atau survive.
            GAP hasil pendidikan dengan tuntunan lingkungan eksternal, yaitu hasil pendidikan cenderung textbook atau teoritis atau orientasi intelektual skill, ketarampilan menyelesaikan masalah sederhana, pembentuk sikap-sikap dasar normatif (etika, sopan santun, birokratis, disiplin), pola hubungan lebih formal, satu arah, otokrasi, sukses itu sama dengan hasil atau prestasi belaja, standar kompetensi basic atau lokal.hal ini berbanding terbalik dengan tuntunan eksternal yang sebenarnya, yaitu praktis aplikasi atau orientasi "intellectual dan emotional skill", masalah yang dihadapi lebih kompleks, sikap-sikap profesional (demokratis, produktif, kreatif, inovatif, adaptif, serta melayani), pola hubungan informal, sukses sama dengan hasil/karya.
             Kegiatan belajar apabila kita analisis akan menghasilkan sesuatu yang sangat berkaitan. Jika kita mau belajar dengan sungguh-sungguh, kita akan memperoleh banyak manfaat, yaitu dapat menyelesaikan masalah dengan baik, mempunyai kemampuan belajar dan berpikir yang baik, keterampilan hidup, dan kita bisa melihat bagaimana pertumbuhan pribadi kita. Saya tegaskan sekali lagi mulai hari ini, esok dan seterusnya, tanamkanlah prinsip hidup yang akan menuntun kita menuju masa depan yang cerah yang diantaranya prinsip hidup itu adalah pertama be yourself, if you not for yourself, who will be for you, do your best, but be prepared for the worst. Paradigma baru itu akan terwujud apabila kita mampu berpikir ke depan dan peduli terhadap lingkungan sekitar.   

Kamis, 02 September 2010


Engineering Center Library at Faculty of Engineering
Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia adalah sebuah sistem terintegrasi yang menawarkan akses komprehensif kepada induk yang mencakup batasan antar fakultas dan displin ilmu. Perpustakaan pusat adalah departemen penting dalam sentra administrasi universitas dimana perpustakaan-perpustakaan berkolaborasi pada ranah akuisisi maupun koleksi digital, teknologi informasi, preservasi dan high-density storage.

Untuk memfasilitasi koordinasi dan komunikasi, Perpustakaan Pusat UI menjadi fusi bagi semua perpustakaan fakultas. Layanannya mencakup layanan terpadu bagi semua mahasiswa UI. Pada 2007, koleksi Perpustakaan Pusat UI mencapai angka 1.500.000 buku. Adapun koleksi ini adalah koleksi komprehensif bila menimbang jumlah arsip dan dokumentasi yang dinaunginya. Perpustakaan Pusat UI adalah salah satu yang terbesar di Asia koleksinya.

Dengan didukung system informasi yang berbasiskan kepada teknologi informasi yaitu digital library online information system maka pengunjung dapat secara langsung mencari dan mengunduh koleksi-koleksi yang

disediakan seperti: Koleksi Buku, Koleksi Majalah, Koleksi Non Buku, Koleksi Artikel Eletronik, Koleksi Book Elektronik serta karya yang dihasilkan segenap civitas academica dalam koleksi Universitas Indonesia.